Omega-3 (2)

(Artikel tersebut sebelumnya telah dipublikasi pada situs citrahidup.com, dan di sini tulisan diperbaiki seperlunya namun tidak ada perubahan yang berarti)

Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (II)

Perkembangan, penelitian, dan pandangan terhadap omega-3

Seperti yang telah disampaikan di bagian pertama Omega-3 (1), karena senyawa tersebut memiliki demikian banyak effek positif terhadap kesehatan, banyak peneliti dari berbagai Institusi penelitian di seluruh dunia turut terjun melakukan studi. Tema penelitian pun beragam. Yang telah kita ketahui bahwa asal mulanya penemuan tersebut dari studi banding kasus penyakit jantung (coronary heart disease) antara orang Eskimo dan orang Amerika, yang kemudian merambah ke segala penyakit di modern society. Tulisan bagian kedua ini berdasarkan dari beberapa referensi literatur, yang cukup memberikan gambaran sementara tentang perkembangan omega-3 di dunia penelitian. Dengan tulisan ini diharapkan bagi pembaca yang masih ingin menggali lebih dalam, baik informasi maupun pengetahuan tentang omega-3, mendapatkan gambaran “how competitive is this molecule“, sehingga menyebabkan sekian banyak peneliti menekuninya.

Omega-3 tidak dipandang sebagai vitamin sebagaimana yang kita ketahui, seperti vitamin C, atau B, dan lain-lain, Omega-3 masih dalam perjalanan pembuktian yang lebih memuaskan lagi bagi semua pihak. Saya akan mulai dari tulisan grup peneliti Appleton KM, The University of Bristol, (Dari artikel yang terakhir dapat dilihat, ia kemudian pindah ke Quenn’s University Belfast) Inggris. Appleton KM et al tidaklah menonjol di dunia omega-3, dan ia pun rupanya tidak begitu mudah mengikuti arus yang memuji khasiat omega-3. Pada salah satu artikelnya (1, 2006) ia menyimpulkan sebagai berikut:

Trial evidence that examines the effects of n–3 PUFAs on depressed mood is limited and is difficult to summarize and evaluate because of considerable heterogeneity. The evidence available provides little support for the use of n–3 PUFAs to improve depressed mood. Larger trials with adequate power to detect clinically important benefits are required.

Appleton et al tidak melakukan percobaan, melainkan mengevaluasi artikel yang dipublikasi jurnal-jurnal di seluruh dunia mengenai omega-3. Lumayan keras kerjanya menelusuri artikel sebanyak 13 ribuan judul yang berkaitan dengan omega-3 (meta analysis). Dari jumlah itu diperas oleh peranti lunak analisa hingga akhirnya tinggal 12 artikel saja yang masuk kategori dapat diterima sesuai kriteria standar penelitian. Dapat dibayangkan, siapa yang dapat membuat terobosan dalam penelitian, ia akan mendapatkan penghargaan, serta perhatian, dan kemudian tulisannya pun akan diterima dengan peringkat peer article dan dipublikasi di jurnal termuka pula. Perlu kita sadari, tidak semua tulisan ilmiah itu berkwalitas. Yang menarik di dalam daftar Appleton et al, yang tinggal 12 nama termasuk juga Stoll et al, dan Peet, keduanya dikenal baik di dunia omega-3. Tulisan Appleton et al berikutnya (2) juga berdasarkan data questionnaire dari 2 ribuan peserta di Inggris. Hasil evaluasinya tetap menyatakan tidak menunjang effek omega-3 terhadap depresif. Pada tulisan berikutnya (3), juga evaluasi questionnaire dari 10 ribuan peserta dari Irlandia Utara dan Prancis. Kesimpulannyanya tidak jauh berbeda dari sebelumnya, tetapi sudah agak melemah,seperti yang ditulisnya di bawah ini:

… The relative contributions of fish intake to depressed mood both directly and indirectly are yet to be determined. However, while diet is not measured and until lifestyle can be adequately measured, the potential roles of diet and lifestyle in the association between depressed mood and dietary fish intake should not be ignored.

Hal yang serupa mempertanyakan keampuhan omega-3. datang dari Lee Hooper et al (4), School of Medicine, University of East Anglia, Norwich, Inggris. Hooper juga melakukan pencarian dari beribu-ribu literatur yang berhubungan dengan omega-3 terhadap penyakit cardiovascular disoders dan cancer (meta analysis, juga menggunakan sejenis peranti lunak analisa). Tetapi tulisan Hooper mengundang banyak perhatian dan kritikan dari para pakar (5). Awal dari perdebatan yalah salah satu hasil penelitian yang dimuat dalam artikel Hooper. Nama penelitinya Burr ML (6) yang melakukan penelitian dengan hasil kwalitas rendah, tetapi dikutip oleh Hooper dan dijadikan sebagai pegangan. Sehingga membuat kesimpulan yang memberatkan khasiat omega-3. Salah satu kritikan datang dari Dr. Dyerberg (Kita kenal dari tulisan sebelumnya mega-3 (1) , beliau adalah penemu omega-3). Kritikan yang sangat mengena datang dari Crawford MA (Institute of Brain Chemistry and Human Nutrition, University of North London, London, UK),

All diagrams purporting to support the conclusion of Hooper et al are based on relative risk – favours high or favours low omega 3 – which like a drug trial assumes the variable is only the omega 3 dose. This falsifies the review.

Begitulah, jalan pikiran sebagian peneliti sudah biasa dengan skema percobaan dengan hanya satu variable. Padahal dalam hubungan ini omega-3 jelas dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya, dan material yang digunakan dalam penelitian pun perlu dipertanyakan. Selanjutnya Crawford mengomentari,

Moreover, it is DART II that skews the data. It was a stop start affair and used MAXEPA capsules. MAXEPA is an EPA rich oil derived from but not a fish oil! …. they do not report docosahexaenoic acid (DHA). … DHA is the principle cell membrane omega 3 fatty acid of the endothelium, smooth muscle cells, heart, immune, neural and other cells. The receptors are in the membrane and that is where you would want to see a difference if your measure was effective. There is relatively little EPA in the receptor sites. (Catatan penulis: DART adalah sejenis software atau peranti lunak untuk analisa data.)

William S Harris (Nutrition and Metabolic Disease Research Institute, Sanford Research/USD Sanford School of Medicine of the University of South Dakota and Sioux Valley Hospitals and Health System) mengkritik dari substansi percobaannya,

… Most importantly, the very attempt to perform a meta-analysis in this area is problematic owing to the lack of high quality, randomized controlled trials (RCTs). Absent these, meta-analyses can be more harmful than helpful. … One troubling aspect of the Hooper meta-analysis was the pooling of diet studies (i.e. fish intake advice) with supplementation trials (using either generic fish oil capsules or highly concentrated prescription omega -3 preparations). The former required replacement of some foods with others (leaving open the possibility that the omitted items contributed to the observed outcomes), whereas the latter did not. In addition, commingling studies with differing doses, background diets, patient populations, and follow-up periods adds markedly to sample heterogeneity.

Kritikan selanjutnya terhadap Hooper et al dapat Anda baca di referensi (5). kurang lebih ada puluhan tulisan yang meragukan khasiat omega-3, sesuatu hal yang akan terjadi, mengingat belasan ribu artikel yang telah dipublikasi tentang omega-3. Ini berarti, suara yang kontra masih di bawah 1% ! Bagi penulis, walaupun tidak membaca semua artikel yang kontra, sekian banyak tulisan betul-betul sulit mengenal ujung-pangkalnya. Hanya dengan cara pelan-pelan dan sistimatis mencari beberapa artikel pegangan, dan dicoba mencari hubungan satu dengan yang lain, barulah akhirnya dapat mengambil kesimpulan- kesimpulan awal. Tulisan di atas sekedar memberikan gambaran betapa tajamnya pandangan para peneliti bila sesuatu yang tidak beres muncul dalam tulisan. Hal demikian biasa terjadi di dunia ilmiah dan di antara para pakar, yang akhirnya memicu kwalitas penelitian yang lebih sempurna. Perlu kita ketahui, ketajaman pengamatan para peneliti berhubungan erat dengan tema penelitian yang mereka geluti.

Para peneliti terkenal di bidang tersebut bukan tidak melihat kekurangan di sana sini dari hasil penelitiannya, dan mereka menyadari harus ada koordinasi dan kerja sama yang berkelanjutan, hal tersebut dapat dilihat dari artikel (7) yang dibuat bersama oleh beberapa pemuka omega-3 dari Amerika, Marlene P. Freeman, MD dari University of Arizona College of Medicine, Tucson, Joseph R. Hibbeln, MD, The National Insitute on Alcohol Abuse and Alcoholism, Bethesda, Md, Malcom Peet, MB, School of Health and Related Research, University of Sheffield, Sheffield, England, Andrew L. Stoll, MD, The Department of Psychiatry, McLean Hospital, Harvard Medical School, Boston , Mass, dan masih banyak lagi lainnya. Tujuannya mereka menyatakan akan meninjau hasil penelitian selama ini, apakah dapat menunjang penggunaan omega-3, essential fatty acids (EFA) untuk penanganan preventif serta pengobatan pada penyakit mental (psychiatric disorders).

Stahl LA dan rekan-rekannya (School of Psychological Science, La Trobe University, Bundoora, Victoria, Australia), termasuk juga Sinclair AJ (School of Exercise and Nutrition Sciences, Deakin University, Victoria, Australia) (8. 2008) mereview hasil penelitian studi epidemiologi hubungan antara omega-3 PUFA dengan depresi, serta hasil penelitian percobaan penyembuhan depresi, bipolar disorders menggunakan omega-3 PUFA. Dari pengamatan mereka terhadap hasil penelelitian itu, ternyata tidak sedikit yang menunjukkan tidak memuaskan atau menyatakan tidak conclusive dengan omega-3 PUFA. Stahl et al melihat penyembuhan dengan EPA, ethyl-EPA. EPA menunjukkan effek terhadap fungsi sel endothelial pada pembuluh darah, yang mana memperlancar peredaran darah pada bagian cerebral. Di lain pihak terlihat, bahwa terdapat korelasi antara DHA dengan gejala depresi, post partum depression, bipolar disorders, namun ini pun bukan tanpa kekurangan. Yang ditekankan oleh Stahl et al sebetulnya kwalitas percobaan hingga kini, masih beragam, dan belum terdapat pembuktian percobaan dose respond dengan omega-3 PUFA.

Omega-3 masih butuh pembuktian clinical trial yang menyeluruh untuk memuaskan semua pihak. Cara demikianlah yang ditempuh oleh industri farmasi, bila ingin dipandang sederajat dengan obat-obatan. Yang membuat rumit bagi omega-3 PUFA, senyawa tersebut berhadapan dengan sekian banyak penyakit modern society, dan mencoba meng-claim keampuhannya. Berikut ini akan ditampilkan beberapa peneliti yang memandang positif omega-3 PUFA terhadap beberapa penyakit modern society.

Adrew L. Stoll, MD, peneliti dari Harvard Medical School, The Department of Psychiatry, McLean Hospital, Boston , Mass, Amerika. Stoll melakukan penelitian pengobatan dengan omega-3 terhadap patient psychiatric disorders. Ia pengarang buku “The Omega-3 Connection” (2002). Buku yang menarik menceritakan secara historic mengapa kita membutuhkan omega-3.

Artikel tuilisan Hibbeln R Joseph dapat ditelusuri dari akhir tahun 80an hingga 90an, di mana ia mendalami epidemiologi penyakit-penyakit gangguan kejiwaan, depresi, kemudian juga penyakit bipolar disorders, suicide, aggressiveness, schizophrenia, dan lain-lain yang berhubungan dengan psychiatric. Tulisannya telah banyak sekali dikutip sebagai referensi. Yang menonjol pada tulisannya secara epidemiologi yaitu hubungan antara pola makan kandungan poly-unsaturated fatty acids (PUFA) di ikan, dengan penyakit yang disebut di atas. Salah satu artikelnya “Cross-National Comparisons of Seafood Consumption and Rates of Bipolar Disorders” (9), di mana dapat ditunjukkan secara kasat mata, negara di mana penduduknya mengkonsumsi banyak ikan laut, Iceland, Korea, dan Taiwan, rendah angka mengendap penyakit jenis bipolar disorders dan schizophrenia, sedangkan negara seperti Jerman, Spanyol, Hungaria, dan Israel, tinggi angkanya, dalam huungan negara-negara ini penduduknya sedikit mengkonsumsi ikan laut.

Selanjutnya, nama seperti Crawford MA (Sebuah presentasi menarik dari Crawford, 2002 berupa Power Point Presentation dapat Anda lihat.), Sinclair AJ, Simopoulos AP, dan masih banyak lagi nama lainnya, adalah para peneliti yang telah puluhan tahun merintis penelitian di bidang PUFA dan omega-3. Tulisan mereka telah memudahkan para peneliti melakukan penelitian selanjutnya. Hingga akhirnya kita dapat mengenal lebih baik, apa itu sebetulnya fungsi daripada omega-3 di tubuh kita. Penelitian pada omega-3 dilakukan dari berbagai disiplin ilmu misalnya, biokimia, biokimia membrane lipid, brain science, biologi molekuler, rekayasa genetika, teknologi scanning, dan lain-lainnya.

Sekarang kembali kepada kita sendiri, menghadapi hal-hal yang praktis di dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita perlu meragukan kahsiat omega-3 PUFA ? Tulisan di bawah mungkin dapat memberi sebagian jawaban yang dapat melegakan kita.

Beberapa penemuan terakhir tentang omega-3

Para pakar di bidang tersebut dikonfrontasi dan sadar akan penemuan dari fungsi omega-3, EPA, DHA, di dalam tubuh kita, dan ini dapat dilihat dari fungsinya pada sel, terutama pada sel otak. Penemuan- penemuan tersebut menunjukkan bahwa, terutama DHA, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari fungsi normal bekerjanya otak kita. DHA adalah bagian dari cell membrane yang sangat vital.

Review article yang ditulis oleh Parris M Kidd, PhD (10, 2007) berjudulkan “Omega-3 DHA and EPA for Cognition, Behavior, and Mood: Clinical Findings and Structural-Functional Synergies with Cell Membrane Phospholipids” mudah dibaca dan dapat memberikan gambaran secara umum pengetahuan tentang omega-3 hingga saat ini. Kidd bekerja sebagai konsultan untuk produk supplement, dan antara lain dapat kita lihat produk omega-3 terakhir yang sedang dipopulerkan yaitu yang berasal dari krill, sejenis udang kecil dan berupa makanan bagi ikan paus. Krill hanya terdapat di perairan dingin, terutama laut di sekitar kutub utara dan kutub selatan.

Seperti telah kita ketahui dari bagian (I) tulisan ini, EPA, DHA adalah senyawa omega-3. EPA dan DHA memiliki fungsi masing-masing di dalam tubuh kita, dan tepatnya kedua senyawa tersebut memiliki reaction path (jalur reaksi) yang menentukan proses biokimia selanjutnya (11). EPA dan DHA adalah bagian yang sangat penting dari cell membrane. Secara keseluruhan EPA, DHA menunjang kesehatan mental, dan tanpa supply yang mencukupi, tubuh akan terganggu stabilitas mentalnya.

Cell membrane terdiri dari double lipid layer sebagai dasarnya. Lipid (atau lipida) pada cell membrane berupa phospholipid, yaitu kecuali lipid (glycerol dan fatty acids) ada phosphate group lagi, menjadi kesatuan molekul yang besar. Salah satu fatty acids dari phospholipid itu yang terdapat pada sel otak adalah poly-unsaturated fatty acid atau PUFA (asam lemak tidak jenuh). Sedangkan kebanyakan PUFA di otak adalah DHA dan AA (arachidonic acid. AA penting bagi tubuh, akan tetapi lebih mudah diperoleh dari pada DHA, dari makanan berupa daging, telur, dan susu.).

Phospholipida

Harris WS (12) dalam artikelnya menjelaskan mekanisme omega-3 di dalam tubuh dan sel. DHA, EPA bergabung pada cell membrane dalam bentuk phospholipid , dan kemudian bila dibutuhkan sel, phospholipid akan dipecah dengan bantuan enzyme phopspholipase A2 dan masuk ke dalam sel (intracellular). Proses pemecahan enzyme ini disebabkan adanya sinyal dari dalam sel membutuhkan DHA/EPA untuk mengatasi terjadinya gejala inflamasi. Telah diketahui dengan baik, bahwa DHA, EPA berperan meredamkan terjadinya inflamasi, yang disebabkan dan dikenal reaksi inflamasi dengan nama infalmmatory cascades (Bagian yang tidak akan dibahas di sini, cukup kalau kita mengenal istilah seperti prostaglandins, arachidonic acid AA, eicosanoids (yang buruk), semuanya dikenal sebagai pemicu terjadinya inflamasi.).

Apa peranan DHA, EPA pada cell membrane? Dengan adanya DHA, EPA, karakter fluidity daripada cell membrane lebih tinggi. Ini disebabkan oleh kedua senyawa ini yang memiliki titik cair (atau titik beku) yang rendah. DHA, EPA adalah poly-unsaturated, dengan kata lain ikatan antara corbon atom terdapat lebih dari 2 double bond. Fluidity yang tinngi pada cell membrane (10, 12) mempermudah sistem transport dari dan ke sel, dan sebaliknya. Sistem transport selalu membutuhkan protein (carrier protein, receptor protein) tertentu yang berada pada cell membrane. Fluidity menjamin protein bekerja optimal. Penelitian membuktikan, DHA, EPA terdapat dengan kwantitas yang tinggi pada cell membrane synapse (Lihat artikel di situs ini The Brain tentang synapse). Hal yang serupa juga pada sel spermatozoa, retina di mata, dan yang jelas pada sel otak (neuron) kita. sel dan sel organ tersebut membutuhkan fluidity yang tinggi untuk bekerja secara sempurna. Synapse memegang peranan kunci dalam proses transfer informasi antar sel otak (neuron), dan antar sel neuron dan organ lainnya di dalam tubuh kita. Kadar DHA, EPA yang rendah akan mengganggu proses tersebut, dan melumpuhkan sistem kerja otak.

Sejauh ini Harris dan grup peneliti lainnya dapat membuktikan, untuk berfungsi dengan normal, cell membrane seharusnya memiliki kurang lebih 8% DHA, EPA dari total fatty acid (asam lemak) yang ada di sana. Penelitian ini dilakukan dengan sel darah merah. Pembuktian tersebut berhubungan dengan coronary heart diseases (CHD). Secara epidemiologi, bila total DHA dan EPA cell membrane pada sel darah merah jauh di bawah angka itu, atau sekitar 4% dari total fatty acid, risiko CHD sangat tinggi. Ia menyarankan DHA/EPA cell membrane pada sel darah merah (red blood cell) dapat dijadikan bio-marker, atau omega-3-index. Suatu waktu di kemudian hari, bila metoda tersebut diterima, pendeteksian dan prediksi penyakit modern society dapat lebih mudah ditangani dengan yang biaya lebih rendah.

DHA, EPA menjaga keseimbangan di dalam sel bila terjadi inflamasi yang berlebihan. Bagaimana terjadinya proses meredam inflamasi? Penemuan beberapa tahun terakhir tentang ini membuka peta baru peranan DHA, EPA di dalam sel.

Peranan berikutnya dari DHA dan EPA cell membrane, kecuali menjaga fluidity yang dibicarakan di atas, yaitu sebagai anti-oxidant, menangkal serangan senyawa bersifat oxidative dari luar sebelum masuk ke dalam sel. Struktur senyawa omega-3 yang terdapat banyak carbon double bond, menyebabkan senyawa tersebut mudah teroksidasi. Produk teroksidasi dari DHA, EPA itu, bila dipecah dan kemudian masuk ke dalam sel, akan diproses secara enzymatic dan diubah menjadi senyawa yang mempengaruhi kesehatan kita, yaitu berperan aktif meredam inflamasi. Mengenai fungsi tersebut akan kami lanjutkan pada tulisan berikutnya dalam waktu dekat.

References:

(Beberapa artikel ini dapat Anda peroleh di situs masing-masing ditandai dengan Free Access.)

1. Katherine M Appleton, Robert C Hayward, David Gunnell, Tim J Peters, Peter J Rogers, David Kessler and Andrew R Ness. Effects of n–3 long-chain polyunsaturated fatty acids on depressed mood: systematic review of published trials1. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 6, 1308-1316, December 2006

2. Appleton KM, Peters TJ, Hayward RC, Heatherley SV, McNaughton SA, Rogers PJ, Gunnell D, Ness AR, Kessler D. Depressed mood and n-3 polyunsaturated fatty acid intake from fish: non-linear or confounded association? Soc Psychiatry Psychiatr Epidemiol. 2007 Feb;42(2):100-4. Epub 2006 Dec 11

3. Appleton KM, Woodside JV, Yarnell JW, Arveiler D, Haas B, Amouyel P, Montaye M, Ferrières J, Ruidavets JB, Ducimetiere P, Bingham A, Evans A; for the PRIME Study Group. Depressed mood and dietary fish intake: direct relationship or indirect relationship as a result of diet and lifestyle? J Affect Disord. 2007 Dec;104(1-3):217-23. Epub 2007 May 1

4. Lee Hooper, Rachel L Thompson, Roger A Harrison, Carolyn D Summerbell, Andy R Ness, Helen J Moore, Helen V Worthington, Paul N Durrington, Julian P T Higgins,Nigel E Capps,Rudolph A Riemersma, Shah B J Ebrahim, George Davey Smith. Risks and benefits of omega 3 fats for mortality, cardiovasculardisease, and cancer: systematic review. BMJ, doi:10.1136/bmj.38755.366331.2F (published 24 March 2006)

5. http://www.bmj.com/cgi/eletters/332/7544/752 dan http://www.bmj.com/cgi/content/full/332/7544/752?grp=1

6. Burr ML, Ashfield-Watt PA, Dunstan FD, Fehily AM, Breay P, Ashton T, Zotos PC, Haboubi NA, Elwood PC. Lack of benefit of dietary advice to men with angina: results of a controlled trial. Eur J Clin Nutr 2003;57:193-200.

7. Freeman MP, Hibbeln JR, Wisner KL, Peet M, Keck PE, Marangell LB, Richardson AJ, Kake J, Stoll AL. Omega-3 Fatty Acids: Evidence Basis for Treatment and Future Research in Psychiatry. J Clin Psychiatry, 2006, 67: 1954-1967.

8. Stahl LA, Begg DP, Weisinger RS, Sinclair AJ. The role of omega-3 fatty acids in mood disorders. Curr Opin Investig Drugs. 2008 Jan;9(1):57-64.

9. Simona Noaghiul, M.D., M.P.H. Joseph R. Hibbeln, M.D.. Cross-National Comparisons of Seafood Consumption and Rates of Bipolar Disorders. Am J Psychiatry 2003; 160:2222–2227.

10. Parris M Kidd. Health educator; biomedical consultant tothe dietary supplement industry (formerly Cell biology, University of California, Berkeley). Omega-3 DHA and EPA for Cognition, Behavior, and Mood: Clinical Findings and Structural-Functional Synergies with Cell Membrane Phospholipids. Alternative Medicine Review, Volume 12, Number 3, 2007.

11. Serhan CN. Novel eicosanoid and docosanoid mediators: resolvins, docosatrienes, and neuroprotrectins. Curr Opin Clin Nutr Metab Care 2005;8:115–21.

12. William S. Harris, PhD. Omega-3 Fatty Acids and Cardiovascular Disease: A Case for Omega-3 Index as a New Risk Factor. Pharmacol Res. 2007 March ; 55(3): 217–223.

Links yang berhubungan dengan isi artikel:

phospolipid, cell membrane

1. http://www.cytochemistry.net/Cell-biology/membrane_intro.htm#Phospholipids

2. http://telstar.ote.cmu.edu/biology/downloads/membranes/index.html

One response to “Omega-3 (2)

  1. Ping-balik: Indeks Omega-3 « stresslenyap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s